







Anjay, rating 4.8 tapi... Tempat Nongkrong cyberpunk di Jakarta ini 'list anti-zonk'-nya lebih penting dari menunya
Ossu Izakaya di Blok M menawarkan pengalaman nongkrong unik dengan atmosfer cyberpunk yang memukau, membawa pengunjung serasa ke jalanan Tokyo tahun 80-an. Ditemani lampu neon dan alunan musik City Pop, suasananya dijamin juara untuk berkumpul bersama teman. Namun, artikel ini menyoroti bahwa kualitas makanannya bisa jadi untung-untungan. Jadi, datanglah untuk menikmati vibe-nya yang keren, tapi bersiaplah untuk pengalaman kuliner
Setiap kali lewat daerah Blok M, Jakarta Selatan, aku selalu penasaran sama Ossu Izakaya yang lampunya neon kelap-kelip ini. Ratingnya di Google 4.8, tinggi banget, rasanya kalau nggak dicoba bakal nyesel, apalagi perut udah keroncongan abis pulang kerja. Tapi… pas baca-baca review-nya, kok rasanya kayak buka *blind box* ya? Ada yang muji setinggi langit, ada juga yang ngejatuhin sampai ke dasar bumi. Anjay, ini sih malah bikin semangatku tertantang! Harus coba langsung!
Suasananya Juara, Makanannya Untung-untungan?
Jujur ya, suasana di sini itu daya tarik utamanya. Naik ke lantai dua, rasanya kayak langsung teleport ke jalanan Tokyo tahun 80-an. Gaya cyberpunk campur City Pop, lampu yang temaram ditambah musik yang unik, suasana buat Nongkrong langsung dapet banget. Buat kumpul bareng teman atau sekadar Chill tengah malam, pilih tempat ini dijamin nggak bakal salah.
Tapi! Pas makanannya datang, mood-ku langsung naik turun kayak roller coaster...🎢
Kita bahas dulu yang banyak dipuji. Kulit ayam bakar (Kawa Yakitori)[1], emang Mantap! Dipanggang sampai garing renyah, wangi lemaknya pecah di mulut, sekali gigit capek langsung hilang. Ayam goreng Jepang (Tori Karaage)[2] juga oke, luarnya garing dalamnya empuk, standar izakaya yang pas. Bakso ayam (Tsukune) pakai saus kuning telur, teksturnya lumayan, boleh dicoba[3].
Tapi Gyoza Krim (Creamy Gyoza) yang viral itu[4], aku beneran nggak ngerti deh… Ada yang suka banget, katanya rasa krim truffle-nya kuat. Versi yang aku makan... gimana ya, kulitnya agak kurang matang, rasa truffle-nya cuma ada di angan-angan. Yang paling parah itu sate sapi (Gyu Karubi)[4], 35 ribu satu tusuk, tapi dagingnya alot dan keras, sampai pegel rahangku ngunyahnya!
Eits, Jangan Bayar Dulu, Dengerin Keluhanku!
Jujur aja, harganya lumayan mahal. Aku sama teman cuma pesan beberapa sate dan segelas teh, seorang kena hampir 150 ribu[5]. Soal *worth it* atau nggak, menurutku sih kurang ya. Dan ada beberapa hal yang harus aku keluhin:
- 1. Di dalam boleh merokok[6]! Buat teman-teman yang sensitif sama asap rokok, mending pikir-pikir lagi, nanti malah jadi penyedot asap.
- 2. Sinyalnya jelek banget! Mau bayar pakai kartu atau scan QR? Semoga beruntung ya[7], mendingan bawa cash yang cukup.
- 3. Ocha yang bisa di-*refill* itu, gelasnya kecil banget kayak lagi main masak-masakan, mau minta *refill* harus teriak kencang, agak canggung jadinya.
Panduan Versi Manusia, Ambil Aja Nggak Usah Makasih!
Jadi, tempat ini *worth it* nggak sih buat didatengin? Saranku: Kalau cari suasana, gas! Kalau cari makanan enak, hati-hati.
✅ Rekomendasi (Pesan Ini Aja):
❌ Jangan Pernah Dipesan (Hindari):
📝 Yang Perlu Kamu Tahu (Heads-up):
- `Kulit ayam bakar (Kawa Yakitori)`: Juara umumnya, pesan aja tanpa ragu[8]!
- `Ayam goreng Jepang (Tori Karaage)`: Rasanya konsisten, nggak bakal salah pilih.
- `Bakso ayam (Tsukune)`: Menu andalan yang boleh dicoba.
- `Gyu Karubi`: Siapa yang pesan pasti nyesel, kayak makan "dendeng".
- `Aneka Ramen`: Serius deh, jangan korbankan kapasitas perutmu yang berharga buat ini[4].
- Siapin mental: Anggap aja ini bar yang oke buat foto-foto dan ngobrol, bukan restoran Jepang kelas atas.
- Uang tunai adalah raja: Bawa cash yang cukup! Bawa cash yang cukup! Bawa cash yang cukup!
- Foto hanya untuk referensi: Kalau foto di menu beda sama aslinya itu wajar, jadi siapin mental aja ya[3].



