Loading...






Bagaimana sebuah toko es krim legendaris bisa bertahan sejak 1932 meski tanpa AC, pelayanannya kurang ramah, dan rasanya dianggap biasa? Artikel ini mengupas keunikan kedai ikonik Jakarta tersebut. Di balik sensasi panas dan rasa es krim yang lebih mirip es serut rumahan, terdapat nilai nostalgia yang kuat. Tempat ini lebih menawarkan pengalaman kembali ke masa lalu dan menikmati menu unik seperti Spaghetti Ice Cream, daripada sekadar mencari kelezatan es krim modern yang lembut dan mewah.
Di musim panasnya Jakarta, yang bisa bikin gue rela panas-panasan buat datengin, selain cari duit, ya cuma toko es krim legendaris yang udah buka dari tahun 1932 ini.
Jujur ya, statusnya di Jakarta itu udah kayak merek legendaris yang jadi ikon kota. Di depan pintunya ada sertifikat dari MURI (Museum Rekor Indonesia), kelihatannya keren banget. Tapi begitu masuk, nuansa retronya sih dapet, tapi sedetik kemudian langsung pengen balik kanan gara-gara hawa panas dan suara orang yang ramai banget. Anjay, beneran nggak ada AC sama sekali! Cuma ada beberapa kipas angin tua yang muter pelan-pelan di atas kepala, rasanya kayak kembali ke abad yang lalu.
Pas lihat sekeliling, ada turis yang mukanya penasaran kayak gue, tapi banyak juga Kakek-Nenek lokal yang bawa cucunya buat makan es krim. Ngelihat muka mereka yang kelihatan puas banget, gue jadi sadar, buat mereka ini mungkin udah bukan soal makan es krim lagi, tapi lebih ke Nongkrong, sambil mengenang masa lalu.
Oke, sekarang bagian"tapi"-nya.
Kedua, harganya emang kurang sepadan sama rasanya. Satu Spaghetti Ice Cream harganya 50 ribu Rupiah, tapi rasanya ya... gitu deh. Anggap aja gue bayar buat nilai sejarah dan nostalgianya. Kalau lo emang pencinta es krim yang ngejar rasa super enak, mungkin bakal kecewa.
Terakhir, buat teman-teman yang mau mampir ke sini, gue rangkumin beberapa tips jujur:

JUNI di Cikini memikat dengan desain industrial tropisnya yang sangat fotogenik, menjadikannya tempat yang populer di media sosial. Namun, jangan terkecoh dengan rating tingginya jika Anda mencari tempat untuk mengobrol santai. Artikel ini menyoroti volume *live music* yang sangat kencang hingga sulit berkomunikasi, pelayanan yang kurang ramah, serta kualitas makanan yang tidak konsisten. Tempat ini lebih cocok bagi mereka yang ingin menikmati suasana dan berfoto, bukan untuk percakapan mendalam.

Maple & Oak di Menteng adalah tempat brunch viral dengan suasana cozy yang selalu ramai. Namun, di balik popularitasnya, kualitas makanannya ternyata sangat untung-untungan. Beberapa menu utama seperti Big Breakfast dikritik karena terlalu berminyak dan rasanya tidak konsisten. Uniknya, dessert Peach and Berry Cobbler justru menjadi penyelamat dan menu yang paling direkomendasikan. Artikel ini menyimpulkan bahwa pengalaman bersantap di sini terasa seperti berjudi, tidak sepadan dengan harganya yang cukup tinggi.

BART di Artotel menawarkan pemandangan kota yang memukau dan suasana modis, menjadikannya tempat yang pas untuk berfoto. Meskipun cocktail dan makanannya, seperti pasta jamur, mendapat pujian, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan. Musik live yang sangat kencang membuat obrolan menjadi sulit, dan area merokok yang terbuka mungkin tidak nyaman bagi sebagian orang. Dengan harga premium, tempat ini lebih cocok untuk menikmati suasana ramai dan musik daripada untuk percakapan santai yang intim.

Selesai berolahraga di GBK? Jangan langsung pulang! Mampir ke On Your Right, kafe yang jadi tempat nongkrong favorit para pelari. Dengan suasana terang dan area outdoor yang menghadap trek lari, tempat ini ideal untuk bersantai sambil mengisi energi. Keunikan utamanya adalah menu sehat khusus untuk olahragawan, lengkap dengan informasi kalori dan protein. Jangan lewatkan Salmon Rice Bowl dan Es Kopi Susu OYR yang jadi andalan saat berkunjung ke sini untuk pengalaman pasca-lari yang sempurna.