Loading...














Roots & Acre di Sunter menawarkan pengalaman ngopi yang lebih dari sekadar rasa. Bukan hanya kedai kopi, tempat ini secara unik menjembatani penikmat kopi dengan para petani lokal melalui program “Mail Parcel”. Dalam paket ini, pembeli akan menerima biji kopi pilihan beserta surat tulisan tangan yang menceritakan kisah dari sang petani. Konsep ini membuat setiap cangkir kopi terasa lebih personal, hangat, dan penuh cerita, menjadikannya destinasi wajib bagi pencari kopi otentik yang mendalam.
Di Jakarta, sehari aja nggak ngopi tuh rasanya kayak ada yang kurang gitu ☕️. Tapi jujur aja, coffee shop baru makin banyak aja, coba sana-sini kok rasanya kurang ada 'jiwa'-nya, sampai akhirnya gue nemu tempat ini, Roots & Acre.
Tempatnya bukan tipe yang hits dan langsung bikin wow pas pertama kali liat, tapi pas duduk dan ngobrol bentar sama owner-nya, gue langsung respect banget! Anjay, ini sih bukan cuma jualan kopi, ini udah kayak pertukaran budaya!
Konsep brand-nya juga keren banget:"Stick to our roots and grow an acre at a time" (Satu per satu hektar, berpegang pada akar kita). Mereka bener-bener niat menghubungkan petani kopi lokal sama kita para konsumen, bikin setiap cangkir kopi jadi punya kehangatan dan cerita.
Satu-satunya yang mau gue keluhin dikit paling lokasinya sih. Tokonya ada di Sunter, Jakarta Utara, buat gue yang biasa Nongkrong di Jaksel, emang harus niat banget dateng ke sana. Tapi serius deh, demi secangkir kopi yang punya cerita ini, perjalanan ini worth it banget. Lagian, rating 4.9 di Google itu bukan kaleng-kaleng!
Kalau lo udah bosen sama kopi industrial yang gitu-gitu aja, seorang pencinta kopi sejati, dan pengen ngulik lebih dalem soal budaya dan cerita di balik secangkir kopi, wajib banget masukin tempat ini ke list lo!
Ingetin tanggal ini: mereka bakal ikut Jakarta Coffee Week 2025 dari tanggal 31 Oktober sampai 2 November 2025. Buat yang pengen nyobain Affogato dewa itu, bisa langsung samperin booth mereka di sana

Jangan kaget melihat 'stasiun MRT' berwarna hijau stabilo di Pluit, karena ini adalah kafe unik dengan interior yang didesain persis seperti gerbong kereta bawah tanah Jepang. Selain setiap sudutnya yang sangat Instagrammable, kafe ini menawarkan pengalaman pesan mandiri lewat mesin dan kemasan minuman kaleng transparan yang praktis. Mengingat tempatnya yang mungil, kafe ini lebih cocok untuk mampir sebentar mengambil foto dan kopi, bukan untuk nongkrong berlama-lama bersama teman-teman.

Meskipun memiliki rating Google tinggi, NSNTR di Mercure PIK menawarkan pengalaman yang sangat kontras. Restoran ini unggul dalam suasana elegan dengan pemandangan kota dan beberapa menu andalan seperti sashimi segar. Namun, pengunjung perlu bersiap menghadapi sistem buffet ala carte yang sangat lambat, kualitas makanan yang tidak konsisten, serta pelayanan yang seringkali mengecewakan. Ini adalah tempat dengan kelebihan dan kekurangan yang sama-sama ekstrem, lebih cocok untuk menikmati suasana daripada berburu kuliner sepuasnya.

Cinnabon Kelapa Gading memanjakan pencinta manis dengan aroma kayu manis yang khas. Roti gulungnya, terutama varian Caramel Pecanbon, menjadi juara karena teksturnya yang empuk dengan saus melimpah dan porsi besar yang sepadan dengan harga. Namun, waspadai kualitasnya yang terkadang tidak konsisten dan kopinya yang sangat tidak direkomendasikan. Karena tempatnya kecil dan selalu ramai, membawa pulang adalah pilihan terbaik untuk menikmati kelezatan gulungan sinamon hangat ini tanpa perlu antre lama untuk duduk.

Artikel ini mengulas fenomena gerai teh viral Chagee yang terkenal dengan antrean panjangnya. Di balik kemasannya yang sangat estetik dan Instagrammable, ulasan jujur ini menyebutkan bahwa rasa minumannya tidak sepadan dengan penantian berjam-jam dan harganya. Rasa teh dianggap biasa saja dan bisa menjadi hambar, sementara pengalaman pengambilan pesanan cenderung kacau. Artikel ini menyimpulkan bahwa Chagee lebih cocok bagi mereka yang mencari konten foto daripada kenikmatan rasa teh yang istimewa.