Loading...






Sebuah kedai es krim di Blok M mencuri perhatian dengan desain futuristiknya yang menyerupai kapsul luar angkasa. Tempat ini terkenal karena antreannya yang panjang dan pilihan rasanya yang liar dan unik, seperti Strawberry Kecombrang Nipis yang menyegarkan hingga Maple Beef Ham yang tak biasa. Meskipun tempatnya kecil dan kurang cocok untuk nongkrong, kedai ini wajib dikunjungi bagi para pencari petualangan rasa yang ingin mencoba kombinasi es krim tak terduga di Jakarta Selatan.
Anjay! Weekend kemarin gue ke Blok M, dari jauh udah keliatan ada toko yang antreannya panjang banget, kirain ada artis dateng. Pas deketin, wih, ternyata toko es krim. Fasadnya didesain kayak kapsul luar angkasa warna silver, kesan futuristiknya dapet banget, pantesan di depan isinya anak-anak gaul yang lagi foto-foto pake HP.
Gue asal pilih aja dua rasa:
Jujur ya, review rasa es krim di sini tuh beda-beda banget. Ada yang suka banget sama kreativitasnya yang liar dan rasanya yang nggak bikin enek, tapi ada juga yang ngerasa ini cuma overrated, cuma hype karena viral aja. Harga sekitar 50 ribu per scoop, udah nyaingin harga Gelato, jadi soal harga emang kurang sepadan.
Kalau kamu ke sini buat Nongkrong dan ngobrol sama teman-teman, mending jangan deh, soalnya tempatnya sumpek banget. Tapi kalau kamu pencinta es krim dan suka nyobain rasa-rasa baru yang unik, rasa-rasa kreatif mereka patut dicoba.
Terakhir, buat teman-teman yang mau coba ke sana, ini gue kasih beberapa tips 'manusiawi':

Bottega Ristorante di SCBD viral berkat interior elegannya yang sangat Instagrammable, menawarkan suasana Eropa yang menawan. Namun, di balik estetikanya, artikel ini mengulas pengalaman yang campur aduk. Kualitas makanannya tidak konsisten—beberapa menu seperti steak dan dessert dipuji, sementara yang lain mengecewakan. Pengunjung juga perlu bersiap dengan pelayanan yang kurang maksimal dan suasana yang dipenuhi asap rokok di seluruh ruangan, menjadikannya pengalaman yang "hit-or-miss" meski dengan harga yang cukup tinggi.

Meskipun viral di media sosial dengan antrean panjang, artikel ini mengulas pengalaman yang pro dan kontra di The Misoa Story. Menu andalannya, seperti Original dan Mala Misoa, dinilai memiliki rasa yang kurang kuat dan tidak sepadan dengan ekspektasi. Di tengah suasana ramai dan pelayanan yang menjadi sorotan, justru camilan hekeng yang menjadi kejutan lezat. Ulasan ini menyimpulkan bahwa hype yang ada mungkin tidak sebanding dengan pengalaman bersantap secara keseluruhan, terutama setelah menunggu lama.

Meskipun menawarkan konsep 'fun dining' molekuler dengan 17 menu seharga jutaan, artikel ini mengungkap pengalaman buruk di Namaaz Dining. Penulis menyoroti berbagai masalah, mulai dari rasa makanan yang mengecewakan dan lebih mementingkan gimmick, hingga suasana yang tidak nyaman dan proses makan yang merepotkan. Puncaknya adalah insiden kebersihan yang parah, seperti penemuan kecoak hidup dalam hidangan penutup, membuat restoran ini dinilai sama sekali tidak sepadan dengan harganya yang mahal dan sangat tidak direkomendasikan.

Hotel Monopoli di Kemang menawarkan desain retro New York yang sangat fotogenik pada siang hari. Namun, artikel ini mengungkap sisi lainnya: saat malam tiba, rooftop club-nya berubah menjadi sumber kebisingan ekstrem yang menggetarkan seluruh bangunan hingga dini hari. Pengalaman menginap yang kontras ini menjadikannya surga bagi para pencari pesta, tetapi mimpi buruk bagi siapa pun yang menginginkan istirahat tenang. Ini adalah "hotel hiburan" sejati, bukan tempat untuk mencari ketenangan di tengah hiruk pikuk Jakarta.