Loading...






Terselip di dalam sebuah kedai teh di Jakarta, spot kue hits ini menawarkan soft cookie raksasa ala New York dengan isian lumer. Namun, bersiaplah untuk rasa manis yang ekstrem! Bagi yang tidak terlalu suka manis, es krim sereal jagung The Dumbo yang unik atau Cereal Milk bisa menjadi penyelamat yang lebih bersahabat di lidah. Dengan tempat yang mungil dan terbatas, spot ini lebih cocok untuk pembelian take-away daripada nongkrong santai, jadi jangan berharap untuk bisa duduk lama.

Mencari spot WFC baru di M Bloc Space? Mbok Ndoro menawarkan suasana Jawa retro yang nyaman dengan WiFi kencang, menjadikannya surga bagi para pekerja remote atau yang ingin nongkrong santai. Namun, ada satu hal penting: jangan datang saat perut kosong. Meskipun sambalnya juara, waktu penyajian makanannya terkenal sangat lama dan kualitas rasa hidangan utamanya mendapat ulasan yang beragam. Tempat ini lebih cocok untuk bersantai sambil menikmati minuman daripada mencari makan berat saat lapar.

Merasakan sensasi bersantap ala bangsawan Jawa di tengah hiruk pikuk Jakarta? Plataran Dharmawangsa menawarkan pengalaman tersebut dengan suasana oase yang tenang di dalam rumah Joglo antik yang dikelilingi taman rimbun. Restoran mewah ini menonjolkan hidangan Indonesia unik seperti Bebek Kari Manggis dan Sate Lidah Sapi. Namun, artikel ini juga mengupas tuntas apakah pengalaman premium ini sepadan dengan harganya yang fantastis, yang bisa mencapai jutaan rupiah per orang, serta membahas beberapa kekurangannya.

Sebuah kedai es krim di Blok M mencuri perhatian dengan desain futuristiknya yang menyerupai kapsul luar angkasa. Tempat ini terkenal karena antreannya yang panjang dan pilihan rasanya yang liar dan unik, seperti Strawberry Kecombrang Nipis yang menyegarkan hingga Maple Beef Ham yang tak biasa. Meskipun tempatnya kecil dan kurang cocok untuk nongkrong, kedai ini wajib dikunjungi bagi para pencari petualangan rasa yang ingin mencoba kombinasi es krim tak terduga di Jakarta Selatan.

Lucky Cat Coffee & Kitchen adalah kafe 24 jam yang viral berkat interior industrial dan pohon ikoniknya yang fotogenik. Namun, di balik popularitasnya, artikel ini mengungkap pengalaman yang campur aduk. Meskipun selalu ramai, kafe ini dikritik karena kualitas kopi dan makanan yang buruk, harga yang mahal, serta suasana yang gerah dan tidak nyaman. Pada akhirnya, tempat ini lebih cocok dianggap sebagai spot foto larut malam daripada destinasi kuliner, terutama saat pilihan lain sudah tutup.