


Stop asal serbu! TCC Jakarta itu setengah surga, setengah buat Nongkrong. Mau Chill? Cek ini dulu
Dikenal sebagai salah satu bar terbaik di Asia, The Cocktail Club (TCC) Jakarta menawarkan pengalaman minum yang istimewa. Koktailnya berkualitas surgawi, dengan menu unik berbentuk peta koordinat untuk membantu memilih minuman. Namun, tempat ini memiliki reputasi yang terbelah. Artikel ini mengulas mengapa TCC bisa menjadi surga bagi para pencinta koktail sejati, namun mungkin kurang cocok untuk sekadar nongkrong santai, membantu Anda memutuskan apakah tempat ini sesuai selera sebelum berkunjung.
Setiap kali ada teman yang datang ke Jakarta, gue pasti ditanya The Cocktail Club itu layak dikunjungi atau nggak. Gimana nggak, kan tempat ini punya gelar "Asia's 50 Best" ✨, siapa sih yang nggak penasaran?
Jawaban gue biasanya: "Tergantung lo mau ngerasain surga dunia, atau 'neraka' dunia 😂".
Serius deh, reputasi tempat ini emang terbelah banget. Yang suka, suka banget. Yang benci, juga benci setengah mati. Sebagai 'pasukan garda depan' kalian, gue harus jelasin semuanya blak-blakan.
Koktail dan Camilan Surgawi
Kita bahas yang bagus-bagusnya dulu ya. Koktail di TCC emang jago banget. Menu minumannya dibuat kayak peta koordinat, bantu lo cari minuman berdasarkan tingkat kekuatan rasa dan gayanya, ide cerdas ini gue kasih nilai penuh[1].
Kalau lo baru pertama kali ke sini, pesen aja langsung signature-nya Drama Queen[2], rasa dan penampilannya oke banget, dijamin nggak bakal salah pilih. Kalau mau coba yang sedikit beda, cobain Cha Guavara[3], pas diminum rasanya kayak masuk ke hutan hijau yang baru aja kena hujan, segar dan misterius.
Yang lebih bikin gue kaget itu camilannya! Sama sekali bukan level camilan bar yang asal-asalan. Wagyu croquettes[4] (kroket wagyu) dan Curly fries[5] (kentang goreng keriting) nya简直 Mantap! Luarannya garing, dalamnya lembut, enaknya sampai pengen bungkus satu porsi lagi buat dibawa pulang.
Momen "Mimpi Buruk" di Dunia Nyata
Tapi! Guys, harap diperhatikan! Pengalaman indah yang gue ceritain di atas itu ada batas waktunya.
Sebelum jam 8 malam, tempat ini tuh lounge bar yang suasananya Chill banget, lo bisa Nongkrong dengan nyaman bareng teman-teman. Lewat jam 8, suasananya langsung berubah drastis: ramenya udah kayak ikan sarden dalam kaleng, musik jedag-jedug sampai kalau mau ngobrol harus teriak-teriak, sama sekali nggak bisa ngobrol enak.
Yang paling parah, ini tuh area merokok yang 'nyerang tanpa pandang bulu'! Seluruh tempatnya penuh asap rokok, buat kita yang nggak merokok, ini siksaan banget. Anjay, setiap kali keluar dari sana rasanya kayak baru diangkat dari panggangan, bau asap semua[6]!
Oh ya, hostess di depan pintunya bisa dibilang makhluk paling jutek se-Jakarta. Reservasi telat tiga menit aja, meja lo bisa-bisa langsung say goodbye[7]. Jangan harap ada toleransi, di sini, aturan ya aturan.
💡 Cara Tepat Menikmati TCC (Panduan Anti Zonk)
Jadi, tempat ini sebenarnya masih layak didatengin nggak sih? Tentu aja layak, tapi harus pakai strategi! Simpan baik-baik panduan ini:
- Waktu Emas: Mau Chill? Wajib banget datang sebelum jam 8 malam. Atau sekalian aja datang pas buka jam 5 sore, biar bisa dapat Happy Hour (sampai jam 8 malam), koktail jadi sekitar 100 ribuan per gelas, super hemat! [3]
- Seni Reservasi: Jangan harap bisa walk-in, reservasi dulu dari jauh-jauh hari! Dan JANGAN SAMPAI TELAT[8]!
- Batas Usia: Bawa KTP/paspor lo, di sini pengecekan ID-nya ketat banget, harus sudah 25 tahun ke atas baru boleh masuk[9].
- Solusi Transportasi: Parkiran di Senopati itu susah banget dicarinya, langsung pakai jasa Valet aja, 35 ribu, praktis dan nggak bikin pusing[10].







