Loading...






MUHI di Jakarta Selatan mencuri perhatian dengan desain arsitektur *mid-century modern* yang estetik dan furnitur ramah lingkungan. Kafe ini bukan sekadar tempat nongkrong, tapi juga surga bagi pencari kuliner Bali otentik, dengan menu andalan seperti Creamy Betutu Gilimanuk yang wajib dicoba. Namun, di balik keindahannya, artikel ini juga mengulas beberapa kekurangan, seperti area atas yang panas dan minim colokan sehingga kurang ideal untuk WFC, serta lahan parkir yang sangat terbatas.
Belakangan ini, timeline gue penuh banget sama kafe yang namanya MUHI, katanya sih tempat WFC baru yang hits di Jakarta Selatan, desain arsitekturnya Mantap abis. Gue mikir, kafe di Jakarta kan udah seketat itu persaingannya, emang masih bisa ada yang bikin kaget? Eh, pas dateng… ternyata ada kejutan plus sedikit 'kaget'-nya juga, sini gue ceritain ke kalian.
Tapi itu semua bukan poin utamanya, yang paling penting, di tengah kota Jakarta ternyata bisa nemu makanan Bali yang seotentik ini!
Buat teman-teman yang mau mampir, inget-inget poin ini ya:
Kesimpulannya, kalau kamu ke sini karena pengen coba makanan Bali yang otentik dan suka sama arsitektur yang estetik, ini jelas worth it banget. Tapi kalau kamu lagi nyari tempat WFC yang sempurna, mungkin harus hoki-hokian juga buat dapet tempat duduk yang pas

Meskipun dikenal sempit dan penuh asap, ZODIAC di Senopati memiliki magnet kuat yang membuat pengunjungnya selalu kembali. Daya tarik utamanya adalah seleksi musik Techno dan House yang berkualitas, menciptakan atmosfer pesta yang santai dan non-judgmental. Bar ini juga menawarkan keunikan lewat koktail kalengan eksklusif dan sering menjadi tuan rumah bagi pop-up fashion. Dengan biaya masuk gratis, tempat ini menjadi titik kumpul gaul yang sayang untuk dilewatkan meski harga minumannya tergolong premium.

Artikel ini mengulas pengalaman makan yang sangat mengecewakan di Holycow!, restoran steak yang dulu legendaris. Meskipun harganya mencapai ratusan ribu, kualitas steaknya dinilai merosot tajam, dengan tekstur yang alot "seperti sandal karet" dan penggunaan daging Meltique. Selain pelayanan lambat dan masalah kebersihan yang parah, satu-satunya hal yang masih bisa dinikmati hanyalah saus jamurnya. Restoran ini dianggap hanya menjual kenangan masa lalu dengan kualitas yang tak lagi sepadan dengan harganya.

El Asador, steakhouse legendaris di Kemang, kini menawarkan pengalaman yang untung-untungan. Kualitas steak yang menjadi andalannya tidak lagi konsisten—terkadang empuk dan juicy, namun tak jarang alot dan mengecewakan. Meskipun begitu, tempat ini tetap punya daya tarik, seperti mashed potato super creamy yang jadi favorit banyak orang dan suasana hangat dari panggangan kayu bakarnya. Datanglah untuk menikmati suasana dan hidangan pendampingnya, namun jangan berekspektasi terlalu tinggi pada menu utamanya.

Temukan kafe bertema putri raja yang setiap sudutnya dipenuhi bunga dan dekorasi cantik, sempurna untuk berfoto. Suasananya yang memukau menjadi daya tarik utama, meski kualitas makanan dan minuman dianggap biasa saja untuk harganya. Namun, beberapa menu seperti Bomboloni berukuran besar dan Nasi Goreng justru mendapat pujian. Dengan budget sekitar 150 ribu per orang, tempat ini lebih menawarkan pengalaman visual yang memanjakan mata daripada sebuah petualangan kuliner yang luar biasa.